KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam

Hari Ketiga Pencarian Korban KMP Tunu Pratama Jaya, Begini Kondisi Posko Terpadu

Posko terpadu tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Pelabuhan Ketapang kini dilengkapi matras untuk keluarga penyintas

Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Ahmad Zaimul Haq
KELUARGA KORBAN - Keluarga penyintas tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Posko Terpadu Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/7/2025). Para penunggu kabar ini memilih bertahan meski hanya tidur di atas matras. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BANYUWANGI - Hingga memasuki hari ketiga pencarian korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, sejumlah keluarga  tetap bertahan di Posko Terpadu di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Mereka tetap menaruh harapan besar kabar 29 penumpang dan anak buah kapal (ABK) yang hingga saat ini masih dalam proses pencarian.

Seperti Ririn, warga Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Sejak mendapat kabar anak pertamanya bernama Ridho Anggori (29) yang sampai saat ini belum ditemukan, ia tetap menunggu di Posko Terpadu.

Ridho Ahmad, menjadi sopir Travel dan tengah mengantar sejumlah wisatawan yang hendak ke Bali.

Kata Ririn, sebelum berangkat sempat meminta Ridho untuk libur bekerja terlebih dahulu karena perasaanya tidak nyaman. Apalagi, dia mempercayai bahwa hari itu bukanlah hari baik.

Bahkan, Ririn sempat menggelar selamatan bubur jenang, dan meminta anaknya agar memakan bubur jenang yang telah didoakan sebelum berangkat.

"Kalau firasat itu ada, cuma orang tua ya mbak, tapi orang tua sudah mengingatkan. Sekarang kan hari nahas. Tapi Ridho bilang, aku golek rejeki, golek blai (Saya mencari rejeki, bukan mencari kesialan, red)," jelasnya sambil mau berkaca-kaca.

Karena anaknya sudah bersikukuh bekerja, Ririn pun merestui dan memberikan doa agar selamat selama bertugas.

Baca juga: Jip WNA Asal Tiongkok Terjun ke Jurang di Jalur Menuju Gunung Bromo

Ririn mewajari semangat anaknya bekerja, mengingat, baru enam bulan Ridho menjadi sopir Travel.

Ia menaruh harapan besar ada kabar baik. Meski, dirinya juga pasrah, mengingat sudah hari ketiga tak ada kabar penemuan korban lainnya.

"Dari kejadian saya nangis terus. Sekaerang sudah kering. Udah 3tiga hari, mana ada manusia bisa bertahan tiga hari di dalam air," terangnya.

"Kalau mau dibilang ikhlas ya tidak ikhlas, tapi kalau dipikir-pikir ya takdir. Harapannya ada mukjizat," katanya sembari mengusap air mata.

Sementara itu, pantauan di lapangan, semula sejumlah keluarga tidur beralaskan tikar.

Namun, kini sejumlah fasilitas tampaknya telah disediakan bagi keluarga korban yang menunggu.

Mulai dari posko informasi, tempat matras beristirahat, fasilitas permainan bagi anak-anak korban.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved